Tuesday, July 9, 2013

Membuat Email Dengan Nama Domain Sendiri Dan Menghubungkannya Dengan Gmail (Gratis)


Menggunakan alamat email yang menggunakan nama domain sendiri akan terlihat lebih profesional dibandingkan bila kita menggunakan alamat email gratis seperti gmail atau yahoo. Untuk kepentingan bisnis atau perusahaan tentu akan lebih baik bila menggunakan alamat email dengan nama domain sendiri. Sayangnya, menggunakan email dengan nama domain sendiri sedikit merepotkan karena kita mesti masuk ke cpanel hosting terlebih dahulu. Selain itu, tampilannya sangatlah tidak menarik.
Sebenarnya kita bisa memanfaatkan email client di komputer yang terhubung dengan email website. Di situ kita bisa melihat email yang masuk dan membalasnya secara langsung tanpa perlu login ke cpanel email hostingan. Kita tinggal menjalankan aplikasinya saja. Meski demikian, tetap saja ini merepotkan baik untuk setting dan lain-lainnya. Selain itu, fitur yang ditawarkan baik email client maupun email hostingan tidaklah sebanyak dengan Gmail.
Terimakasih kepada google. Beberapa akun email (multiple email account) bisa dikelola dan disatukan di akun Gmail kita, termasuk email yang menggunakan nama domain sendiri. Fitur ini tersedia gratis untuk pengguna Gmail dan untuk memanfaatkannya kita bisa melakukan beberapa pengaturan di Gmail dan hostingan. Tidak semua hostingan mendukung fitur ini, silahkan cek hostingan kamu masing-masing. Setau saya, hostingan seperti hostgator dan hawkhost bisa.
Cara pengaturan email dengan nama domain sendiri agar terhubung dengan Gmail adalah:
1. Bikin email di Gmail jika belum punya.
2. Silahkan login ke hostingan dan Gmail. Pertama, kita harus membuat alamat email dengan nama domain sendiri. Jika sudah silahkan langsung ke langkah no.3 di bawah. Pada cpanel hostingan cari menu pengaturan Email. Klik ‘Email Accounts’.
Menghubungkan email website dengan Gmail
Pada jendela ‘Email Accounts’ masukkan id email yang dikehendaki misalnya namasaya@domainsaya.com. Isi password sesuai yang kamu inginkan. Setelah selesai silahkan klik ‘Create Account’.
Membuat email dengan nama website sendiri
3. Masih pada jendela ‘Email Accounts’ pada kolom Account @ Domain alamat yang kita sudah bikin akan muncul disini. Di samping alamat email silahkan klik ‘More’ lalu ‘Access Webmail’, masukkan password email. Untuk melihat email klik salah satu webmail software yang disediakan oleh hosting kamu.
Pengaturan email di hostingan
4. Pada jendela Gmail, klik ‘Settings’ lalu klik tab ‘Accounts and Import’. Di bagian ‘Send mail as’ klik ‘Add another email address you own’. Akan muncul pop up menu, masukkan alamat email yang sudah kamu buat di hostingan. Ikuti petunjuk yang muncul. Silahkan masukkan code yang dikirim Google ke email hostingan untuk verifikasi. Kini kamu bisa mengirim email dari jendela Gmail menggunakan email dengan nama domain sendiri.
Membuat email dengan nama domain sendiri
5.  Agar email yang masuk ke email dengan nama domain sendiri muncul di Gmail dari jendela Webmail di hostingan klik ‘Fordwarding Options’, di kolom ‘Destination’ isikan alamat Gmail Anda lalu klik ‘Add Forwarder’.
Membuat Email Dengan Nama Domain Sendiri Dan Menghubungkannya Dengan Gmail (Gratis)
6. Di jendela pengaturan Gmail, tab ‘Accounts and Import’. Pada bagian ‘Send mail as’ centang ‘Reply from the same address to which the message was sent’ sehingga email yang masuk di email nama domain sendiri bisa direply langsung menggunakan alamat tersebut, bukan alamat email default dari Gmail.
Dengan cara di atas, kini kamu bisa mengatur, menerima dan membalas email dengan nama hosting sendiri langsung dari Gmail. Selamat mencoba!

Thursday, July 4, 2013

@DanboCorner


Ingin Bisnis Sambil Kuliah? Inilah Kelebihan Dan Kekurangannya

Kuliah sambil bisnis

Saya membaca blog seorang teman yang curhat bahwa dia mengundurkan diri dari bangku kuliah demi fokus menjalankan bisnis. Wow. Sebuah keputusan yang besar, dan biasanya topik ini cukup kontroversial. Ada yang setuju dan memberi contoh orang-orang yang sukses bisnis setelah DO dari kampusnya, namun ada juga yang mendorong untuk terus mengenyam pendidikan tinggi.
Memang kuliah atau tidaknya seseorang bisa jadi tidak berkaitan langsung dengan sukses-tidaknya dia. Bob Sadino tidak kuliah, tapi sukses berbisnis. Sandiaga Uno kuliah dan lulus dengan nilai terbaik, juga sukses bisnisnya.
“Kalau gitu, ga usah kuliah ah. Masih bisa sukses kan?”
Tentu bisa. Tapi sebelum Anda memutuskan untuk tidak kuliah atau mengundurkan diri dari kuliah, pertimbangkan dulu plus minus bisnis sambil kuliah berikut ini.

Kelebihan:


1. Pengembangan Pola Pikir

Benar bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Tapi jika Anda mengandalkan pengalaman pribadi, ingin selalu praktek dan mencoba semua hal sendiri untuk mendapatkan ‘guru terbaik’ ini, ongkosnya bisa sangat mahal. Tidak efisien dalam hal biaya dan waktu. Di kampus, mungkin Anda akan banyak menerima teori. Tapi teori inilah yang nantinya bisa mengembangkan pengetahuan Anda tentang kasus-kasus yang telah terjadi dan solusinya bagaimana. Anda juga dilatih untuk menganalisis dan hingga memprediksi tren masa depan seperti apa.
Sebagai contoh, di kampus Anda bisa menemukan studi tentang teknik-teknik marketing baik yang ampuh maupun yang gagal. Dari sana, Anda akan mendapatkan referensi tentang bagaimana idealnya sebuah program marketing, tentunya disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda dan kondisi saat ini.

2. Networking

Seperti yang diajarkan guru saya, carilah 2 jenis teman, teman yang kaya untuk dijadikan investor dan teman yang pintar untuk dijadikan manager di bisnis Anda. Nah, lingkungan kampus sangat ideal untuk ‘berburu’ teman-teman jenis ini. Anda juga bisa memperhatikan sendiri ‘track record‘ orang tersebut selama kuliah. Apalagi jika satu kelompok mengerjakan suatu tugas atau proyek, Anda bisa lebih mengenalnya dan mempertimbangkan dia untuk diajak berbisnis. Status mahasiswa juga mempermudah Anda untuk bertemu dengan tokoh-tokoh atau public figure yang menginspirasi Anda, misalnya melalui acara kampus.

3. Akses ke Ilmu

Sebagai mahasiswa, Anda punya “kemewahan” untuk masuk perpustakaan dan meminjam sebanyak mungkin buku yang Anda perlukan, bisa mengikuti seminar/ workshop yang diadakan pihak kampus ekslusif untuk para mahasiswanya, bisa mengikuti lomba-lomba kewirausahaan dengan difasilitasi kampus, bahkan bisa diberi bimbingan dalam menciptakan bisnis dalam program semacam business incubator. Menyenangkan, bukan?

Kekurangan :


1. Tidak Fokus

Ini pasti terjadi. Di dalam kelas, Anda malah berpikir harga bahan baku yang sedang naik. Lagi sibuk melayani pelanggan, pikiran mengarah pada tugas yang harus dikumpulin besok. Beruntunglah Anda yang bisa membagi waktu dan membagi pikiran dengan baik. Jika tidak, bersiaplah kehilangan salah satu. Bisnis yang mandeg, atau kuliah yang terganggu.

2. Persoalan Biaya

Jika Anda berasal dari keluarga berada, biaya tidak akan menjadi soal. Tapi jika tidak, mengatur keuangan untuk kuliah dan bisnis bukanlah hal yang mudah. Anda harus disiplin, bisa memisahkan keuangan pribadi dan usaha, dan selalu berhemat.

3. Demotivasi

Mahasiswa yang terbiasa menganalisis, bisa jadi over-analisis dan mungkin lebih takut menghadapi resiko bangkrut karena terlalu banyak menghitung-hitung. Apalagi jika yang bersangkutan mulai praktek bisnis dan gagal, belum lagi godaan tawaran bekerja di perusahaan bonafid. Bisa-bisa say good bye deh jadi pengusahanya.
Jadi, mau mengundurkan diri dari kampus dan focus di bisnis, atau berbisnis sambil kuliah? pilihan di tangan Anda.

Wednesday, July 3, 2013

Penyakit itu bernama Berharap

oleh Jaya Setiabudi

Berharap dia berubah, ternyata tidak.
Berharap dia seperti yang dulu, ternyata berubah.

Berharap dia mencintaiku.
Berharap dia membalas kebaikanku.
Berharap dia mengerti isi hatiku.
Berharap dia kembali padaku.
Berharap dia selalu bersamaku.
Berharap dia seperti aku…

Berharap sedekahku berbalas instan.
Berharap budiku berbalas susu.
Berharap amalku mendatangkan rejeki.
Berharap ikhtiarku berbuah kaya.

BERHARAP memang memberikan MOTIVASI, selebihnya KEKECEWAAN…

Seperti air yang mengalir, menerima apa yang terjadi,
menetralisir sampah, kencing dan tahi…
Tidak berharap batu berpindah, namun melewati dengan senyum, sembari memeluknya…
Karena air tahu, tak ada yang abadi, hanya sebentar dilewati…

Sukses itu berpola, gagal juga berpola!

Sukses itu berpola, gagal juga berpola!

Monday, June 10, 2013

10 Rahasia Sukses Orang Jepang

Image
Jepang adalah negara yang sangat maju dan luar biasa. Bulan Agustus 1945 dua kota besar di Jepang, Hirosima dan Nagasaki terkena bom, dan disaat itu pula Indonesia merdeka. Faktanya Jepang mempunyai akselerasi yang lebih tinggi dibanding Indonesia untuk membangun dan memajukan negara. Tidak hanya itu, Jepang juga rawan akan bahaya tsunami dan gempa bumi yang sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa memprediksi secara kurat kapan terjadinya. Hal inilah menjadikan Jepang menjadi salah satu kiblat dalam pembangunan, termasuk pembangunan karakter manusia.
Sesuatu yang ada hubungannya dengan negara Jepang memang menarik untuk dibicarakan. Budaya Jepang memang sedang diminati oleh kebanyakan anak muda saat ini. Banyak anak muda yang suka dengan anime jepang, film, drama Jepang (j-dorama), makanan, dan boy/girl band.
Berikut ini sepuluh rahasia sukses orang Jepang :
1. Malu
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dalam pertempuran. Setelah masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pemimpin yang terlibat korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Mereka malu terhadap lingkungan apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
 2. Mandiri
Sejak usia dini anak-anak dilatih mandiri. Bahkan seorang anak TK sudah harus membawa tiga tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Jika kehabisan  uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua dan nantinya akan dikembalikan.
 3. Pantang menyerah
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambah dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo, ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen).
Akio Morita awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tape miliknya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).
4. Loyalitas
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan.
 5. Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat.
 6. Kerja keras
Bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai Jepang adalah 2450 jam/tahun. Sangat tinggi bila dibandingkan dengan Amerika yaitu 1957 jam/tahun, Inggris 1911 jam/tahun, Jerman 1870 jam/tahun dan Perancis 1680 jam/tahun. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di jepang dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.
 7. Jaga tradisi, menghormati orang tua dan ibu rumah tangga
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari Anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki, maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.
 8. Budaya baca
Jangan kaget kalau Anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik). Sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca.
 9. Hidup hemat
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, mungkin Anda sedikit heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30, dan ternyata sebelum tutup itu pihak supermarket memotong harga hingga setengahnya.
 10. Kerjasama kelompok
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi pekerjaan yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut.
Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, namun 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”.

Sunday, June 9, 2013

Kadang orang-orang yang sangat berjasa saat awal perusahaan anda harus bisa anda lepaskan jika tidak lagi dapat beradaptasi dengan misi dan kebutuhan perusahaan, ini adalah sebuah hal yang harus diterima.

Tuesday, June 4, 2013

5 Hal yang Membuat Mereka Resign

Dalam bekerja banyak faktor yang membuat kita betah tapi ada juga faktor yang membuat kita tidak nyaman hingga akhirnya memutuskan untuk resign dari pekerjaan kita saat ini. Mulai dari faktor subjektifitas hingga persoalan sistem kerja yang kurang cocok. Berikut hal-hal yang bisa menyebabkan seseorang resign dari kantornya.
1. Gaji yang Terlalu Kecil
Ini masalah dasar sebenarnya. Gaji merupakan salah satu tujuan utama kenapa orang bekerja. Gaji yang terlalu kecil tentu akan membuat orang berpikir berkali-kali apakah dia akan melanjutkan pekerjaannya atau tidak. Jika gaji yang diterima tidak sesuai dengan pekerjaannya maka pilihan biasanya jatuh kepada pilihan untuk berhenti dan mencari yang baru.
2. Load Kerja yang Terlalu Banyak
Load pekerjaan yang melampaui batas biasanya juga menjadi pertimbangan seseorang untuk mengajukan surat resign. Apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga, tentu ingin menghabiskan waktu bersama keluarga. Tapi jika pekerjaan menumpuk dan harus diselesaikan hingga larut malam dan berlangsung setiap hari, maka akan membuat orang akan berpikir dua kali untuk melanjutkan pekerjaannya atau mulai mencari yang baru.
3. Bukan Panggilan Jiwa
Setiap orang memiliki passion masing-masing. Banyak yang berhenti dari pekerjaannya karena tidak sesuai dnegan panggilan jiwanya. Walaupun penghasilan sudah menyentung “angka cukup” bahkan lebih, mereka tetap memutuskan berhenti dari pekerjaannya karena tidak sesuai dengan passion nya. Karena menjalankan apa yang menjadi panggilan jiwa akan memberi kebahagiaan batin bagi yang menjalankannya.
4. Perushaan Hampir Bangkrut
Ketidakjelasan masa depan perusahaan juga bisa memicu orang untuk berhenti dari pekerjaannya. Semua tentu ingin memiliki masa depan yang jelas. Jika perusahaan justru malah memberi sinyal akan mengalami kebangkrutan itu akan memberi kekhawatiran bagi para pegawai nya untuk mencari tempat baru untuk mengadu nasib.
5. Mendapat Tawaran yang Lebih Baik
Hidup adalah pilihan, semua manusia berhak memilih, begitu juga soal pekerjaan. jika kita sudah nyaman dengan pekerjaan sekarang tetapi tiba-tiba mendapat tawaran baru yang lebih baik entah itu dari segi penghasilan, jenis pekerjaan atau hal lainnya maka sah-sah saja jika kita memilih untuk berhenti dari pekerjaan saat ini.