Saturday, March 23, 2013
Success Story
Cari KETRAMPILAN Bukan Gelar
Beberapa tahun lalu saya berjumpa dengan salah seorang mahasiswi Universitas Ciputra, bernama Carol. Di usianya yang baru 19 tahun saat itu, saya cukup kagum dengan kemampuannya berinteraksi dengan orang lain. Carol menceritakan perihal pertemuannya dengan Ciputra, pendiri Universitas Ciputra. Pak Ci berpesan kepada Carol,”Kamu semester 6 keluar aja, bangun usahamu. Tak usah lama-lama sekolah”. Jika Anda sebagai seorang dosen atau orang tua murid, beranikah Anda mengatakan seperti itu? Pikir 200 kali mungkin ya? Kenapa Pak Ci berani mengatakan seperti itu? Justru karena beliau melihat potensi Carol yang bisa melesat lebih jauh dibanding jika ia tetap di bangku kuliahnya? Bagaimana dengan gelarnya sebagai seorang sarjana? Justru saat ia tidak mendapat gelar sarjana, tidak memberikan pilihan baginya menjadi seorang karyawan. Perlu diketahui, saat itu, Universitas Ciputra statusnya belum terakreditasi! Siapa sih orang tua yang mengijinkan anaknya sekolah seperti itu?
Sama halnya dengan Young Entrepreneur Academy (YEA) yang kami dirikan. Sengaja kami tidak mau memberikan sertifikat. Karena jika diberikan, biasanya akan dipakai untuk melamar pekerjaan. Siswa YEA akan diluluskan hanya jika “Mencapai OMSET USAHA minimum 50 juta rupiah perbulan dan NETT PROFIT 5 juta perbulan”. Gilanya lagi, mahasiswa YEA boleh membuat kesalahan, asalkan menanggung kesalahan itu bersama timnya. Sejak minggu pertama di YEA, mereka sudah berkompetisi dalam menjual dan menanggung kerugian jika tidak menang. Saat salah satu kelompok Event Organizer YEA angkatan 2 membuat kerugian 8 juta rupiah, merekalah yang harus menanggung kerugian yang telah mereka perbuat. Untungnya, meski masih berusia belasan tahun, mereka tahu bagaimana cara mencari uang untuk menutup kerugian itu. Inilah realitas kehidupan sebagai seorang pengusaha yang diajarkan ala YEA.
Pertanyaan saya kepada para orang tua:
Apakah anak Anda dipersiapkan menjadi karyawan atau pengusaha?
Apakah anak Anda bisa mandiri, (maaf) jika Anda meninggal nantinya?
Apakah Anda mengijinkan anak Anda berbuat kesalahan (bukan kejahatan)?
Apakah GELAR atau KETRAMPILAN yang lebih penting bagi anak Anda?
Apakah Anda memberikan ‘ikan’ atau mengajarinya ‘memancing’?
“Jangan biarkan anak Anda jadi kuli, kasihan!”
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment