20 tahun lebih menjadi guru di sebuah SMP /SMA di Jakarta, menjadi
penggerak niat mengubah cerita keseharian hidup dari seorang pegawai
menjadi seorang wirausaha. Bukan tidak puas atas apa yang sudah aku
peroleh selama ini tetapi lebih untuk mengasah kemampuan lain selain
kemampuan edukatif yang selama ini aku jalani selama ini. Selanjutnya
minat menjadi wirausaha ingin mencari kegiatan baru persiapan masa tua
karena tidak mungkin seumur hidup menjadi seorang guru.
Kebiasaan pagi berangkat mengajar mendengarkan siaran radio motivasi
power of life yang disiarkan dari Sindo Radio (d/h Trijaya FM)
termotivasi diri untuk lebih mengubah cara berpikir dari seorang pegawai
menjadi seorang wirausaha. Dari sekian pembicara Bang Jay Teroris
merupakan salah seorang inspirator kuat dalam diri untuk melakukan
usaha, bukan bertanya berusaha apa?. Teror dari Bang Jay membawa saya
ke dalam sebuah kegiatan Sekolah Monyet, yang produk pembelajarannya
akan saya uraikan dibawah ini sebagai pelajaran pertama (Lesson One).
Wirausaha bukan merupakan kegiatan pertama kali aku lakukan namun
wirausaha dengan serius mendapatkan bimbingan langsung dari orang yang
berpengalaman adalah hal yang pertama.
Wirausaha pertama setelah pelajaran Sekolah Monyet adalah wirausaha
budidaya ikan lele sangkuriang untuk konsumsi. Kenapa Ikan lele? Karena
hampir setiap jalan di Jakarta, pada malam hari banyak ditemui pedagang
pecel lele , pikiran ku pasti potensinya sangat besar kalau aku
budidaya lele.
Untuk memulai budidaya ikan lele ternyata gak gampang walaupun aku
memiliki latar belakang pendidikan yang dekat dengan dunia mahluk hidup,
maka aku berusaha mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan lele,
ternyata dunia ini sempit waktu mencari pelatihan lele ketemu dengan
bapak Supardi Lee yang juga seorang motivator di Sindo Radio.
Dari hasil pelatihan langsung yang diperoleh tanpa banyak istirahat
dan beprinsip langsung usaha, aku buat kolam percobaan dari wadah air
bekas dan langsung memesan benih 1000 ekor, banyak orang bilang nekat
1000 ekor itu kalau berhasil menjadi 100 kg lebih ikan lele konsumsi.
Udah kebayang berapa keuntungan yang diperoleh saat berkhayal itu ( 100
kg x Rp 13.000) wah …….
Saking semangatnya tiap pagi, siang dan sore kolam aku sambangi untuk
melihat perkembangannya, pemberian pakan juga diperhatikan. Tapi
ternyata bekerja dengan mahluk hidup tidak sama dengan bekerja dengan
benda mati…..Masa sulit pun datang, 3 minggu usia bibit ternyata air
kolam rusak dan berakibat bibit yang berjumlah ribuan ekor tidak tahan
dan tiap hari aku memungut benih lele. Satu persatu lele mungil aku
hitung dan hasilnya 75% benih ku mati karena kerusakan air kolam,
bagaimana mau untung kalau benih mati sebanyak itu.Kegagalan bukan
menjadi halangan untuk maju kata banyak orang…..Kata orang juga
kegagalan dapat merubah nasib orang…….Nasib oh nasib. Kegagalan pertama
dalam benih seribu memacu untuk membuat pembenihan berikutnya aku buat
kolam yang 3 kali lebih besar dengan benih yang 2 kali lebih banyak
wueeeh seru deh kalau gagal………..Persiapan kolam dimulai 10 hari pertama
mengkompos kolam yang besarnya 30 meter persegi alhamdulilah berhasil
dalam 10 hari kolam telah matang untuk ditebar benih. Langkah berikut
pesan benih 2000 ekor langsung ditebar dan tinggal tunggu reaksinya …….
Sehari ditunggu benih aman melewati masa stressnya di lingkungan barunya
, hari kedua mulai mau makan jentik di kolam , hari kelima mulai deh
pada gak doyan makan pelet yang dikasih gak disentuh ternyata makanan
yang dikasih itu ukurannya kebesaran lah jelas aja mulutnya kan gak
muat. Ganti lagi pakan nya pergi lagi cari pakan yang cocok. Hari ke 7
alhamdulilah benih mulai semangat hidup makan banyak mudah-mudahan
begitu seterusnya sampai masa panen ( 3 - 4 bulan).Mendekati masa panen
semakin penasaran berapa target yang dapat dicapai kalau hitungan
diatas kertas mencapai sekitar 200 kg tetapi sadar bekerja dengan mahluk
hidup tidak seperti berhitung dengan Matematika yang hitungannya
pasti.Ternyata benar hasil panen yang dicapai belum mancapai hitungan
target dari 2000 benih baru mencapai 150 kg daging konsumsi artinya baru
mencapai 75% dari rencana produksi, ternyata langkah kedua telah
membalikan keadaan, dan kegagalan telah merubah kenyataan dari 75% benih
gagal menjadi 75% benih mencapai target. Untung donk? Ternyata belum !
masih akan dilanjut dengan pelajaran-pelajaran berikutnya,
kegagalan-kegagalan berikutnya sampai mendapat kebenaran yang
sesungguhnya.Wasalam
No comments:
Post a Comment